Login
 
Resources
 

Book and Audio Review

 

 

 
 

God's Favorite House / Rumah Kediaman Allah

Review dan cuplikan God’s favorite house atau Rumah kediaman/kesukaan Tuhan.
Rate 5/5.
Oleh Sheila Rezak

Buku ini adalah bacaan saya yang paling favorite karena mengupas hubungan yang sangat dalam antara kita dengan Tuhan. Dan buku ini sangat berbeda dengan buku yang lain, secara personal saya bisa katakan ini, dengan mempertimbangkan kata-katanya sangat istimewa sepertinya kata-kata tersebut berasal langsung dari hatiNya Tuhan sendiri yang berbicara melalui Pastor Tenney untuk kita. Pengalaman saya membaca buku ini sangat luarbiasa, sepanjang saya membaca dan merenungkannya, air mata saya tidak pernah kering karena terlalu indah, terlalu manis, terlalu dahsyat pengungkapan hatiNya Allah. Jika anda terjun dalam pelayanan bidang pujian dan penyembahan, saya benar-benar merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Buku ini dapat menjamah hidup anda, menyentuh hati dan pikiran, mengubah kehidupan lama untuk kembali kepada Tuhan dengan urapan yang baru, hati yang baru, dan pikiran yang baru.

 

Chapter 1 mengungkapkan tentang pengajaran mengenai perbedaan-perbedaan tentang tabernakel Musa, bait Salomo, dan tabernakel Daud dan bagaimana Allah demikian tertarik dengan tabernakel Daud. Tuhan memilih tabernakel Daud menjadi tempat kediaman kesukaannya karena itu adalah tabernakel manusia, tabernakel tersebut dibawa oleh pelayan-pelayan Tuhan, dan tidak ada selubung antara halaman, tempat kudus dan tempat maha kudus. Dalam firman Tuhan juga dikatakan, hanya Daud, seorang yang mengejar hatiNya Allah. Daud adalah seorang yang mengejar hadiratNya. Lebih dari itu Tuhan tidak mau terjadi perpisahan antara Ia dan anak-anaknya karena itu terlihat dari ketertarikanNya pada tabernakel Daud yang tidak mempunya selubung. Para penyembah melayani Allah 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari satu tahun selama 36 tahun. Siang dan malam para penyembah itu berdiri, menari, dan menyembah di dalam hadirat Allah, yang merupakan tindakan untuk open heaven (membuka surga).

 

Chapter 2 mengajarkan tentang apa itu berlomba mengejar garis akhir yang salah. Dalam setiap pertemuan ibadah, kadang kita cukup dengan ibadah yang baik, pujian penyembahan yang baik, dan kotbah yang baik. Itu tidak cukup!, sampai kita bertemu sendiri dengan Allah. Bagaimana? Kita sudah diberi kunci. Seperti rasul Petrus berkata, “ Aku berikan kamu kunci. Apa yang kamu ikat di bumi akan terikat di surga, apa yang kamu kepaskan di bumi akan terlepas di Surga.” Tuhan sendiri sudah memberikan kunci keraajaan Surga pada kita (membuka Surga dan menutup pintu kerajaan maut). Bagaimana bertemu dengan dia? Datang dengan hati yang haus, hati yang hancur dan hati yang penuh penyesalan. Tunjukkan kerinduan dan kehausan kita dihadapanNya (show that you are desperate for Him!).

 

Chapter 3 membuka pintu kerajaan Surga dan menutup pintu maut. Apa itu open heaven? Suatu jalan masuk kepada Tuhan. Rasul Paulus menulis ada tiga tingkatan surga. Surga ke-3 adalah tempat kediaman Allah dan malaikat-malaikatNya. Surga ke-dua adalah tempat penguasa udara, dan Surga ke-1 adalah langit diatas kita. Saat kita gunakan istilah “brass heaven” kita tidak akan bicara bahwa Tuhan tidak mendengar doa-doa kita. Melainkan Dia mendengar doa dan secara langsung mengutus malaikatnya untuk menjawab doa-doa tersebut. Masalahnya saat malaikat melewati Surga ke-2 terjadi conflict. Penguasa-penguasa udara berusaha untuk menghentikan jawaban doa tersebut. Salah satu kunci untuk open heaven adalah membuka kunci dari hadirat Allah dengan hati yang hancur dan hati yang penuh penyesalan. Sehingga brass heaven tersebut akan dihancurkan.  Apakah kita rindu akan Pemulihan (revival)? Jawabannya adalah carilah Kemuliaan Allah. Saat kita bergerak meningkat dari tingkat Urapan ke tingkat Kemuliaan Allah, tidak akan terasa mudah. Bahkan akan lebih berat! Ada harga yang harus dibayar untuk Kehadiran Allah. Sesuatu akan terjadi saat kita benar benar lapar (passion) akan Allah. Harga yang kekal adalah bergerak dari sini (hati kita) ke sana (hatinya Allah). Di semua bagian Alkitab, saat surga terbuka dan kemuliaan Allah turun, awan kemuliaan itu turun. Saat Allah hadir, Ia membawa awan kemuliaan untuk perlindungan kita supaya kita tidak mati karena melihat kemuliaan Wajahnya. Awan penyembahan melepaskan belas kasihan atau kasih karuniaNya sehingga kita dapat bersatu dengan Dia dengan keintiman dan kedekatan yang tidak dapat diciptakan pada waktu yang lain. Firman Tuhan menunjukkan lima factor yang dapat membuka Surga: Tithing (persembahan persepuluhan), persecution (penyangkalan daging), persistence (terus meminta), unity (kesatuan), dan worship (penyembahan).

 

Chapter 4 menuliskan tentang membangun Mercy seat (Kursi/tahta Kasih Karunia) dimana lebih dari kunjungan (visiting) kehadiran Allah. Kita mau Ia tinggal (dwell atau habitate) di tengah-tengah kita. Cara untuk membangun Mercy Seat adalah kita harus mengambil posisi kita sebagai penyembah-penyembah (worshippers) yang telah dimurnikan dan telah ditempa. Ini bicara tentang pemurnian, hancur hati dan kesatuan – tiga komponen dari penyembah yang benar (true worship) dalam perjanjian baru dengan Darah Yesus.

Chapter 7 mengungkapkan tentang pentingnya mencari kemuliaan Allah. Pengurapan (anointing) adalah tentang kita, tetapi kemuliaan (Glory) adalah tentang Dia. Jika kita diurapi, kita akan berkotbah lebih baik, berdoa lebih baik, melayani lebih baik, menyembah lebih baik, tetapi ini bukan Tujuan akhirNya. Pengurapan berbicara tentang pencurahanNya untuk membantu kehendakNya didalam kita. Perngurapan bertindak sebagai “wangi-wangian” untuk mempersiapkan kita dalam keintiman dengan Allah. Kemuliaan berbeda. Saat kemuliaan Allah turun, darah daging kita tidak dapat berbuat apa-apa, yang ada hanyalah keintiman dan pertemuan dengan Tuhan.

Chapter 8 menuliskan tentang Praise and Worship (pujian dan penyembahan). Sebagian dari kita berpikir, “ah tidak apa kita agak telat ke gereja, palingan tidak ikut pujian penyembahan, tapi yang pentingkan Firman Tuhannya (kotbahnya)”. Sebenarnya kita gagal menyadari sejauh yang Tuhan perhatikan, dimana Worship (penyembahan) adalah BagianNya, dan Firman adalah bagian kita (Worship is His part, the Word is our part). Maksudnya jika kita tidak ikut pujian penyembahan, kita kehilangan bagian yang paling baik dariNya dimana kita memberi penyembahan kita kepadaNya. Lebih dari itu Tuhan rindu nyanyian dari hati. Tentang nyanyian atau musik. Musik gereja memang tidak lebih baik dari musik dunia karena memang valuenya berbeda dari musik dunia. Kita tidak mengejar kesempurnaan tetapi kita mengejar hadiratNya (we are not run after perfection so much as we are after Presence). Kesempurnaan secara teknis (technical perfection) mungkin memenangkan pujian dari manusia, tetapi hanya pengurapan dan kemuliaan Allah yang dapat mencairkan kekerasan hati manusia. Jika kita tahu betapa dekatnya Allah dengan kita dan bagaimana telitinya Ia mendengarkan setiap penyembahan kita dan hati kita yang hancur dihadapanNya, mungkin kita akan terkejut. Yang Bapa cari adalah Worshippers (penyembah-penyembah). Mungkin kita berpikir  Dia mengasihi dan mengurapi orang orang “Penting” saja, seperti Penghkotbah, Worship leaders, musisi atau singer. Tetapi sebenarnya yang Ia cari adalah Worshippers. Penyembah yang menyembah dengan passion, hati yang hancur, dan hati yang penuh penyesalan.

Akhirnya Saudara, pertemuan dengan Allah adalah masalah hati. Ini adalah core (inti) dari semua yang Tuhan inginkan dari kita. Tuhan beri kita free will (kehendak bebas) untuk memilih dengan cara apa kita mengasihi Dia atau menyembah Dia. Tuhan sudah berikan jawaban bahwa jalan untuk datang kepadanya adalah dengan Hati kita. Sekarang, semua tergantung dari keputusan kita sendiri, sudahkah hati kita benar-benar hanya untukNya, sudahkah hati kita benar-benar haus untuk bertemu dengan Dia, sudahkan hati kita merasakan getar-getar kerinduan untuk bertemu dengan Dia? Well, yang pasti Saudara, Allah itu rindu sekali untuk bertemu dengan kita!

-End-

 
 

Finding favor with the King

Review dan cuplikan Finding Favor with the King atau Mendapatkan Kemurahan dari Sang Raja (by Tommy Tenney)
Rate 5/5.
Oleh Sheila Rezak
Diambil dari Kisah Ratu Ester (kitab Ester) untuk mempersiapkan saat-saat kita berada dalam hadiratNya. Suatu kisah nyata, seorang wanita desa yang menjadi Ratu kerajaan Persia, kisah Cinderella. Pertanyaannya adalah apakah benar karena kecantikan Ester, ataukah ada rahasia dibalik itu semua sehingga ia mendapat kemurahan dari Raja Ahasyweros (King Xerxes). Setelah Ester terpilih menjadi Ratu, tidak sampai di situ saja peranannya, Allah memakai Ester untuk suatu tujuan yang sangat mulia yaitu menyelamatkan bangsanya.
 
Buku ini mengambil kisah pertamanya melalui persiapan-persiapan Ester saat memulai perjalanannya untuk perjumpaannya dengan sang Raja. Kemudian Ester dengan taat mempelajari protocol Istana, ia ditempa baik secara jasmani dan rohaninya sehingga ia benar-benar menjadi seorang wanita yang cantik baik dari dalam ataupun dari luar, hanya untuk bertemu sesaat dengan sang Raja Ahasyweros. Analogi yang sangat kental dengan keadaan kita saat akan menghadap Raja segala raja. Dibutuhkan suatu persiapan-persiapan untuk bertemu dengan Allah. Satu saat (moment)  yang penting sekali waktu kita bertemu Raja segala Raja, karena moment itu akan mengubah seluruh kehidupan kita. Saat Allah berkenan dalam perjumapaan dengan kita, Ia menurunkan belas kasihNya/kemurahanNya, sehingga kita menjadi Mempelai yang sempurna di hadapanNya. Bahkan, saat Ia berkenan kepada kita, ada satu tujuan/maksud Tuhan yang lebih besar untuk kita masing-masing.
 
Chapter 1 menguraikan tentang persiapan Ester selama satu tahun untuk perjumpaan sesaat dengan Raja Ahasyweros. Ada harga yang harus dibayar untuk persiapan ini. Enam bulan pertama, Ester dipersiapkan oleh minyak Mur, yang merupakan lambang pembersihan, dan permurnian. Ini berbicara jika kita ingin hidup dalam hadirat Allah, kita harus meminta pengampunan tiap hari secara rutin. Enam bulan kedua, Ester dimandikan oleh wangi-wangian rempah-rempah, yang berbicara mengenai pujian penyembahan yang melingkupi kita yang merupakan wangi-wangian di hadapan Allah.
 
Chapter 2 berbicara tentang keinginan Ester/kita. Apakah itu kerajaan Allah ataukah Allah sendiri? Tujuan kita untuk bertemu dengan Dia, apakah karena kita mengasihi Dia ataukah karena kita menginginkan sesuatu dariNya. Jika kita mengasihi Dia, kita akan berupaya untuk mencari wajahNya bukan tanganNya.
 
Chapter 3 dimana Ester mulai belajar tentang protocol (prosedur) kerajaan. Ia harus taat melakukan setiap prosedur kerajaan, dan salah satu bagian dari protocol adalah pentingnya menunggu. Jika seseorang itu sangat berharga, maka sangat layaklah kita menuggunya. Menunggu digambarkan sebagai worship (penyembahan). Pemazmur Daud mengulas tiga bentuk (pattern) untuk bertemu dengan Allah. Masuk gerbangNya Allah (halamanNya) dengan pengucapan syukur karena pengucapan syukur (thanksgiving) merupakan bentuk worship yang paling bawah. Kemudian masuk ke tempat kudusnya Allah dengan puji-pujian. Perbedaan thanksgiving dengan praise adalah kita mengucapsyukur pada Allah karena Ia telah memberikan hal yang luarbiasa dalam hidup kita dan kita mau mengingat dan mengakuinya. Kemudian,  Kita praise (memuji) Dia karena Siapa Dia, karena jalan-jalanNya. Ia layak dipuji baik waktu kita mengalami hari yang baik ataupun jahat. Bentuk ketiga adalah worship (penyembahan) masuk ke tempat yang Maha suci, ini berbeda dengan pujian karena hidup kita, tubuh kita menjadi persembahan bagiNya. Ini adalah tanda cinta kita kepadaNya, dan tempat ini tidak bisa dimasuki jika hati atau pikiran kita tidak bersih. Mengasihi Pemberi (the Giver) melebihi pemberianNya (Loving the Giver more than the gifts). Yang harus kita ketahui bahwa semakin dalam kita memasuki pintu istana (bait Allah), semakin sedikit orang yang dapat memasukinya.
 
Chapter 4 membawa kita mengetahui bahwa pengaruh didapati dari keintiman, dan akses (jalan keluar) datang dari hubungan. Haman mengusulkan kepada Raja untuk membunuh bangsa Israel, tapi Ester dengan pengaruhnya dapat menggagalkan rencana tersebut dan membuka jalan keluar untuk menyelamatkan bangsanya.
 
Chapter 5 bagaimana menghampiri seorang Raja. Pertanyaannya apa yang dapat kita berikan kepada Raja segala raja yang sudah mempunyai segalanya. Raja Ahasyweros mungkin mempunyai segalanya, baik itu kekasih. Tapi ia lelah dengan semua itu, ia menginginkan seorang Ratu, seorang yang benar-benar mengasihinya. Allahpun sama, yang Ia inginkan adalah hanya kita, kita yang mengasihiNya dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran.
 
Chapter 12 Ester dengan pengaruhnya dari keintimannya dengan Raja, ia mendapatkan kemurahan dari raja karena ia menjadi orang yang dikasihi. Sehingga ia dapat menyelamatkan bangsanya.
 
Saudara, jangan menganggap remeh persiapan-persiapan dalam pertemuan kita dengan Allah. Satu moment yang tepat bertemu Dia, akan mengubah seluruh kehidupan kita. Kita mungkin dulunya bukan siapa-siapa, tapi saat kita bertemu dengan Dia, mengenal Dia, intim dengan Dia, kita menjadi orang yang sangat diurapi dan dipakai menjadi tujuan yang sangat mulia yaitu menyampaikan kemuliaan Allah bagi orang-orang disekitar kita. –Amin.
-end-

Experiencing the Spirit -

Review dan cuplikan Experiencing the Spirit (Mengalami/merasakan Roh Kudus)

Rate: 4/5

Oleh Sheila Rezak

Buku yang mengupas tentang bagaimana membangun hubungan (relationship) bersama Roh Kudus dalam kehidupan kita. Pengupasan buku ini mulai dari fundamental pengajaran tentang siapakah Roh Kudus itu, sampai pada karunia-karunia Roh Kudus berserta buahNya, dan langkah-langkah untuk dapat menerima Roh Kudus dalam kehidupan kita. Buku ini baik bagi anda yang sudah mengenal ataupun ingin memperdalam pengetahuan tentang Roh Kudus, karena penjabarannya menyegarkan kembali pemikiran dan pengajaran tentang pribadi Allah yang ke-tiga ini.
 
Chapter 1: Siapakah Roh Kudus itu? Sangatlah mengejutkan betapa sedikitnya orang Kristen mengetahui tentang Roh Allah. Dimulai dengan pengenalan bagaimana Roh itu berkerja dengan jalan-jalannya seperti membuat Firman Tuhan itu menjadi hidup, Roh tersebut mengajar dan membimbing kita menjadi serupa dengan Kristus, Roh itu juga yang membawa karunia-karunia untuk melayani, dan Roh itupun yang membawa kasih, kasih karunia dan roh kesatuan dalam hati kita. Roh Kudus adalah pribadi. Pertama, Ia mempunyai karakter sebagai satu pribadi (1 Kor 2:10,11) , Ia bertindah sebagai satu pribadi (Yoh 14:26), Roh itu diperlakukan sebagai satu pribadi (Kis 5:3), dan akhirnya Roh itu adalah bagian dari Trinitas (Mat 28:19). Roh Kudus merupakan manifestasi yang sempurna dari Yesus saat ini.
 
Chapter 2: Roh yang tinggal dalam kita. Mengapa Roh Kudus ingin tinggal dalam kita? Ia tinggal dalam kita untuk membuat kita menjadi dewasa, sehingga kita bertumbuh dalam Tuhan, dan Ia memperlengkapi kita agar kita dapat melayani Allah. Roh Allah yang tinggal dalam kita adalah Roh Yesus yang tinggal dalam hati umatNya, diberikan supaya umatNya mendapat harapan baru, Kasih yang baru, damai sejahtera, sukacita, dan langkah yang baru sehingga umatNya menghasilkan karakter Kristus dalam kehidupannya. Beberapa kunci penting tentang Roh yang tinggal dalam kita. Pertama, Roh tersebut tinggal secara otomatis dalam kita saat kita menerima keselamatan. Kedua, Roh  tersebut tinggal dalam kita dalam kebenaran akan Kristus agar kita menghasilkan buah Roh.
Salah satu cara Roh Allah yang tinggal dalam kita yang dapat mengubah kehidupan kita adalah dengan mengungkapkan hatiNya melalui pemberian berupa Motivational Gifts (Rm 12:3-8), berupa Nubuatan, Melayani, Mengajar, Memberi semangat, Memimpin, dan memberi belas kasihan.
 
Chapter 3: Berbicara tentang transformasi oleh Roh. Dalam surat Korintus, Paulus menelaah empat tipe pribadi manusia yaitu: manusia alami, manusia rohani, bayi rohani, dan manusia Kristen dunia. Manusia alami adalah seorang yang tidak percaya. Ia tidak mempunyai Roh yang tinggal dalam dirinya (1 Kor 2:14).  Manusia Kristen rohani adalah manusia rohani yang membuat keputusan/menghakimi tentang segala sesuatu, tetapi dirinya sendiri tidak termasuk didalamnya (1 Kor 2:15,16). Manusia rohani ini adalah seorang Kristen yang dewasa yang memberikan hidupnya kepada Allah dan membiarkan Roh Kudus untuk mengambil alih setiap bagian dalam hidupnya. Manusia bayi rohani adalah dimana Roh Allah tinggal didalamnya, dan ia dapat menerima beberapa kebenaran. Tetapi ia masih hidup dalam kehidupan seperti seorang yang tidak percaya dalam banyak aspek. Yang terakhir adalah manusia Kristen Dunia (1 Kor 3:2,3). Ia adalah orang yang gagal untuk bertumbuh dan tidak dapat menerima makanan rohani yang keras, dan ia masih hidup dalam kedagingan atau keduniawian. Dengan kata lain, ia menolak Roh Kudus yang berupaya untuk mengubah kehidupannya.
Bagaimana kita memulai perubahan dari seorang Kristen yang lemah menjadi yang bertumbuh? Apakah yang dibutuhkan untuk Roh yang tinggal dalam kita itu untuk mencapai tujuan/kehendakNya? Jawabannya, jika kita ingin Roh yang tinggal dalam kita dapat mencapai kehendak/tujuan Allah, maka ada dua hal yang dibutuhkan yaitu: kita harus memiliki hati yang mengampuni, dan kita musti diisi oleh Firman Allah. Jadi jika kita melakukan ini, mak Roh Allah akan memiliki kebebasan untuk membangun kehidupan kita menjadi orang yang dewasa dan menghasilkan karakter ilahi dari Yesus.
 
Chapter 7: Berjalan dengan pengurapan. Bab ini berbicara tentang sumber pelayanan yesus yaitu pengurapan Roh Kudus. Yesus melayani dengan melepaskan pengurapan (anointing) dari kekuatan Roh Kudus bagi yang membutuhkan. Tanpa pengurapan, tidak akan terjadi pelayanan. Pengurapan bukan saja suatu hal yang nyata, lebih dari itu dapat ditransfer (transferable). Pengurapan mengalir seperti air dan dapat terasa seperti aliran listrik. Ini dapat ditransfer dari satu orang ke orang lain melalui jamahan (Mat 14:35, 36; Lukas 6:19; Markus 5:27 – 29). Jika kita melalukan pekerjaan pelayanan, sangatlah penting kita belajar untuk memulihkan dan menjaga pengurapan dalam kehidupan kita. Alkitab mengajarkan kekuatan pelayanan dipelihara melalui fellowship (persekutuan) dengan Allah. Rahasia dalam menjaga pengurapan adalah dengan secara konstan kembali ke Sumbernya, yaitu kita kembali ke Allah dan menerima lebih lagi pengurapan itu. Motivasi dari pelayanan adalah compassion (belas kasihan). Berulang-ulang kita baca dalam Injil yaitu Yesus berbelas kasihan kepada mereka dan menyembuhkan penyakit mereka (Mat 4:14), dll. Belas kasihan dari Allah yang terus membuat kita melayani walaupun keadaan kita letih.
 
Chapter 12: Manifestasi Hadirat Roh Allah. Kehadiran Allah dapat dirasakan melalui beberapa tingkatan. Yang pertama adalah Allah adalah Omnipresent (maha hadir) yaitu Allah ada di mana-mana. Dimanapun kita berada, Allah ada. Kemudian Kehadiran Allah yang tinggal dalam kita. Saat seorang percaya kepada Yesus, Roh Kudus datang untuk tinggal dalam hatinya. Walau Allah hadir dimanapun, namun secara special Ia hadir dalam hati setiap orang percaya.  Roh Kudus tinggal dalam kita dengan cara yang melebihi omnipresrent. Level yang terakhir (ketiga) adalah Manifestasi kehadiranNya. Allah memanifestasikan kehadiranNya saat Ia memilih untuk menyatakan DiriNya melalui pengalaman hidup kita (experiential way). Pertanyaannya adalah mengapa Roh Kudus memanifestasikan kehadiranNya? Ia menyatakan diriNya untuk memberi pewahyuan khusus dan langkah-langkah khusus bagi kita, untuk memberi pemulihan secara emosi/jasmani, untuk memberi kekuatan dalam pelayanan, untuk memberi semangat bagi yang lemah, dan untuk membuktikan kehadiranNya.
 
-END-
Copyright 2008 Bethany Indonesia - Atlanta Church
Downloaded from DNNSkins.com